Sabtu, 11 Maret 2017

Tari Reog Ponorogo Tarian Daerah Jawa Timur


Tari Reog Ponorogo Tarian Daerah Jawa Timur
Tari reog ponorogo
Tari Reog Ponorogo Tarian Daerah Jawa Timur. Kesenian Reog merupakan salah satu kesenian yang berasal dari Jawa Timur bagian barat laut dan Ponorogo. Ponorogo disebut sebagai kota asal kesenian reog yang sebenarnya karena pada gerbang kota Ponorogo dihiasi dengan dua sosok bagian dari kesenian ini. Dua sosok tersebut adalah Warok dan Gemblak. Kesenian ini masih sangat kental dengan hal-hal mistik dan ilmu kebatinan yang kuat.

Sejarah Kesenian Reog
Sejarah kesenian reog berasal dari cerita rakyat. Ada lima versi cerita yang berkembang namun yang paling terkenal adalah cerita tentang pemberontakan Ki Ageng Kutu. Diceritakan bahwa Ki Ageng Kutu yang merupakan seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabumi pada abad ke-15. Ia melakukan pemberontakan karena murka akan pemerintahan raja yang korup dan terpengaruh kuat dari istri raja majapahit yang berasal dari cina.  Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan bela diri. Namun sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan, maka ia membuat pertunjukan seni Reog yang merupakan sindiran kepada raja Kertabumi dan kerajaannya.

Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai "Singa barong", raja hutan, yang menjadi simbol untuk Kertabhumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak yang menunggangi kuda-kudaan menjadi simbol kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi simbol untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50 kg hanya dengan menggunakan giginya.
Kepopuleran Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Bhre Kertabhumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan populer di antara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru di mana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewandono, Dewi Songgolangit, dan Sri Genthayu.
Versi resmi alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar putri Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun di tengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujang Anom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok ini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan "kerasukan" saat mementaskan tariannya.


Pementasan Seni Reog
kesenian reog ponorogo
Seiring berkembangnya zaman, kesenian rego modern dipentaskan dalam peristiwa-peristiwa penting seperti hari-hari besar nasional, perkawian dan khitanan.
Dalam pementasan seni Reog Ponorogo terdiri dari 2 sampai 3 tarian pembuka.
Tarian Pembuka
Tarian pertama dibawakan oleh 6 sampai 8 pria dengan menggunakan pakaian serba hitam dengan muka dipoles warna merah. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani.
Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Pada reog tradisionil, penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang atau jathilan, yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping.
Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu yang disebut Bujang Ganong atau Ganongan.
Tarian Inti
Setelah tarian pembuka selesai, baru ditampilkan adegan inti dari kesenian ini. Isi dan makna kesenian pada tari inti bergantung pada kondisi pementasan. Jika dipentaskan dalam acara pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan, sedangkan untuk hajatan khitanan atau sunatan, biasanya cerita tentang seorang pendekar.
Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya.
Adegan terakhir adalah singa barong, dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat, juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

Baca juga : Tari Remo Tarian Asal Daerah Jombang - Jawa Timur
Tokoh-tokoh dalam seni Reog
Jathil
Jathil adalah gambaran dari prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog.
Warok Ponorogo
"Warok" yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih.
Barongan (Dadak merak)
Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik - manik (tasbih). Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reog.  Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.
Klono Sewandono
Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut.
Bujang Ganong (Ganongan)
Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.

Kesenian Barong Banyuwangi
Simbol Dalam Tradisi Using 
Bentuk dan sosok Barong ternyata bukan semata milik masyarakat Indonesia. Sosok mahluk “angker” bermata bulat merah dan bertaring itu juga ada dan dikenal di negara-negara Indochina lainnya seperti; China, Korea dan Jepang. Sementara di Indonesia sendiri,selain di Banyuwangi Barong juga “hidup” dan berkembang di Bali.

Namun demikian, sosok Barong dari masing-masing tempat dan wilayah itu berbeda-beda,baik bentuk, aksesori maupun fungsi dan kegunaannya. Di Banyuwangi khususnya didalam komunitas masyarakat Using Kemiren, sosok Barong banyak mengandung komponen-komponen khas Using, mulai dari arsitektur ruang pertunjukannya, tokoh-tokoh yang memainkan, musik, tari dan berbagai isi ajaran serta nilai-nilai moral dari dialog para tokoh yang memainkan, syarat dengan kandungan nilai-nilai budaya Using.

Dalam sebuah makalah berjudul; “Kesenian Singo Barong” yang ditulis oleh Drs TotokHariyanto, disebutkan bahwa kesenian Singo Barong atau yang lazim disebut “Barong”adalah sebuah bentuk teater rakyat yang memadukan unsur-unsur; tari, musik dan laguserta alur cerita yang telah baku yang ditentukan secara turun-temurun.Dalam pentas pertunjukan, alur cerita kesenian Barong dibagi menjadi empat bagian.Bagian pertama yang diberi judul; “Singo Barong”, menampilkan Barong sebagai tokohutama. Tokoh Singo Barong ini merupakan sosok seekor Singa besar yang bermahkota danbersayap, yang bernama; “Sinar Udara”. 

Selain Barong sebagai tokoh utama, bagian ini jugamenampilkan tokoh wanita cantik yang bernama; Ja’ripah. Selain itu, juga ada tiga tokohlain yang diceritakan sebagai tiga orang bersaudara, yakni; Beledhes (Juru Tambur),Beledhung (Juru Layar) dan Beledhus (Juru Kemudi). Dan seorang tokoh lagi yang bernama;Tiang Irris.Bagian kedua yang diberi judul; “Buto-butoan”, menampilkan tokoh utama seorang ksatriayang bernama; Panji Sumirah. Mendampingi tokoh Panji Sumirah ini, juga kembali muncul tokoh tiga bersaudara; Beledhes, Beledhung, Beledhus, serta dua orang yang berperan sebagai Raksasa dan empat orang yang memerankan sosok Jin. 

Pada bagian ini juga tampil sosok Burung Garuda. Pada bagian ketiga diberi judul; “Suwarti”, tokoh-tokoh yang ditampilkan adalah; Pak Suwarti, Mbok Suwarti, Suwarti, Suwarno, Pak Janoko, Tokoh Gandrung, dan dua orang yang berperan sebagai sosok ayam. Lalu pada bagian keempat yang berjudul; “Tuan-tuanan”, tokoh yang tampil adalah; Pak Mantri, Londaya, Siti Ambaridan Siti Sundari serta Jongos (tukang kebun).Konon, kesenian Barong ini diciptakan oleh seorang leluhur masyarakat Desa Kemiren yang bernama; Buyut Chili. Setelah Buyut Chili berhasil menciptakan kesenian ini, ritual adatSeblang yang sebelumnya digelar secara rutin di wilayah ini kemudian dipindahkan kesebelah selatan desa atau tepatnya di Desa Olehsari. 

Menurut penuturan masyarakat,dipindahkannya Seblang ke Desa Olehsari itu adalah atas permintaan Dhanyang Desa yang menyusup ke raga seorang penari Seblang. Ketika itu sang Dhanyang berpesan; “Saiki ring Kemiren wis ono Barong, mula iku Seblang sun elih nyang Uli-ulian (Olehsari). Mulai saiki, Barong ojo dimainaken ring Uli-ulian, sebab uwong bisa mati kabeh. Lan sebalike, ojo anamaning Seblang main ring Kemiren, sebab uwong bisa lara kabeh,” (Sekarang di Kemirensudah ada kesenian Barong, sebab itu Seblang aku pindahkan ke Uli-ulian. Mulai sekarang, Barong jangan dimainkan di Uli-ulian, sebab orang bisa mati semua. Dan sebaliknya,jangan ada lagi Seblang main di Kemiren, sebab orang bisa sakit semua). 


Tari Gandrung

banyuwangi
Mendengar kata ‘Gandrung’ orang akan berpikir tentang arti kata dalam bahasa indonesia, yaitu suka, tergila-gila, atau idola . Jangan salah, jika tari gandrung adalah suatu budaya titisan nenek moyang yang menyuguhkan tarian yang bisa membuat penikmat seni menjadi ‘Gandrung’ atau terpikat oleh gerakan, musik, dan para penari-penarinya. Ternyata tarian khas Banyuwangi yang pernah tampil di berbagai negara ini memiliki cerita dan sejarah yang unik.
Oleh masyarakat Banyuwangi, kata “”Gandrung”” diartikan  sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat kota Blambangan. Tari Gandrung dipertontonkan sebagai wujud syukur atas hasil panen.
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan menurut laporan Scholte (1927), instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Pada saat itu, biola telah digunakan. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890an, yang diduga karena ajaran Islam melarang segala bentuk transvestisme atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yang bernama Marsan.
Menurut sejumlah sumber, kelahiran Gandrung ditujukan untuk menghibur para pembabat hutan, mengiringi upacara minta selamat, berkaitan dengan pembabatan hutan yang angker. Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan seblang (penari) sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya gandrung oleh wanita.
Tradisi gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat. Pada mulanya gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian di samping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak sejak akhir abad ke-20.
Tari Gandrung masih satu Genre dengan beberapa tarian seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di wilayah Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, dengan melibatkan seorang wanita penari profesional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik (gamelan).Gandrung merupakan seni pertunjukan yang disajikan dengan iringan musik khas perpaduan budaya Jawa dan Bali. Tarian dilakukan dalam bentuk berpasangan antara perempuan (penari gandrung) dan laki-laki (pemaju) yang dikenal dengan “paju” Kesenian ini masih satu bentuk kesenian yang didominasi tarian dengan orkestrasi khas ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan gandrung. Kenyataannya, Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung dan patung penari gandrung dapat dijumpai di berbagai sudut wilayah Banyuwangi.
Sejak tahun 2000, antusiasme seniman-budayawan Dewan Kesenian Blambangan meningkat. Gandrung, dalam pandangan kelompok ini adalah kesenian yang mengandung nilai-nilai historis komunitas Using yang terus-menerus tertekan secara struktural maupun kultural. Dengan kata lain, Gandrung adalah bentuk perlawanan kebudayaan daerah masyarakat Using.
Di sisi lain, penari gandrung tidak pernah lepas dari prasangka atau citra negatif di tengah masyarakat luas. Beberapa kelompok sosial tertentu, terutama kaum santri menilai bahwa penari Gandrung adalah perempuan yang berprofesi amat negatif dan mendapatkan perlakuan yang tidak pantas, tersudut, terpinggirkan dan bahkan terdiskriminasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai anak bangsa yang cinta akan tanah leluhurnya, sepatutnya kita jaga kelestarian akan budaya  bangsa ini tanpa mengenal Ras dan suku. Kita adalah satu, yaitu bangsa indonesia yang Bhineka Tunggal Ika

Kesenian Tradisional Gedhongan

 

 

Dukuh: Derek – Sokasari Desa:Paspan Kecamatan:Glagah Kabupaten Banyuwangi Menuju ke arah barat kota Banyuwangi, semula menyusuri jalan yang sepi menuju ke kawah Ijen, tetapi segera memasuki jalan desa, berkelok-kelok ke sana kemari untuk menuju ke sebuah rumah seorang wanita desa di padukuhan Derek – Sokasari Kelurahan Paspan Kecamatan Glagah. Di sanalah permainan Gedhogan atau Gendhongan ini kita dapati. 
Peristiwa Permainan
Pukulan kayu terhadap kayu bertalu-talu bersahut-sahutan Diantara dentam dan gelothak bunyi yang terdengar, masih ter­tangkap lembut ada dan tiada denting logam beradu. Lalu suara pe­nyanyi wanita mengalun, sebentar-sebentar ada dialog wanita tua yang segera disambut’tawa ria penonton. Itulah suasana menjelang senja, ketika enam orang wanita, empat diantaranya sudah berke­riput kulit mukanya, sementara mulutnya tak berhenti mengunyah sirih, memainkan apa yang disebut Gedhogan atau Gendhongan. Batang kayu yang telah dibuat ceruk, dalam ukuran panjang dan besarnya yang berbeda-beda, sehari-harinya berfungsi sebagai alat pengalas menghancurkan kulit padi untuk dirubah jadi beras, atau sering juga untuk melumatkan biji jagung ataupun membuat tepung ketela pohon. Itulah Gedhogan atau Gendhongan. Adapun sebagai alat penumbuknya sendiri disebut ” Alu terbuat dari batang kayu sepanjang kira-kira dua meter dan bergaris tengah 7 cm. Tetapi dalam peristiwa permainan ini alat-alat tersebut telah berubah fungsi menjadi penghasil bunyi ritmis yang menimbulkan kenikmatan dengar khas. Pukulan masing-masingnya menghasilkan suatu esamble yang merangsang untuk diisi dengan berbagai perlakuan dan kegem- biraanpun dibangkitkan dalam suasana itu. Nyanyian diperdengar­kan oleh salah satu wanita itu.
Bunyi kluncing dari logam besi hitam mengisi sela-sela ritme, dan se­orang wanita tua bertindak sebagai Pengudang, yaitu mengisi suasana dengan monolognya yang memancing tawaria. Kalau permainan ini sudah mengarah kepada seni pertunjukan hibur­an, maka tidak jarang permainan dilengkapi pula dengan seorang laki-laki sebagai badut dan pelawak. 
Latar Belakang Sosial Budaya.
Semula wanita-wanita itu mempunyai tugas sebagai pekerja- pekerja penumbuk padi ketika dipanggil keluarga untuk memper­siapkan persediaan beras menjelang suatu perhelatan. Pekerjaan itu cukup berat dan karena banyaknya beras yang harus disediakan maka pekerjaanpun dilakukan berhari-hari.
Membosan­kan dan melelahkan. Untuk mengatasi kebosanan dan kelelahan itu­lah diantara phase-phase proses pembuatan beras dari padi itu mere­ ka menyanyikan lagu-lagu. Tak disadari ia memerlukan suatu kejelas­an ritme lagu, maka tanganpun memainkan pukulan-pukulan alu dipermukaan-permukaan gedhogan itu. Ritme itupun disahut secara spontan oleh rekan-rekannya.
Nikmat juga rasanya, dan tanpa lagupun permainan ini cukup menyegarkan kelelahan pikir dan tenaga yang seharian diperas tak henti-hentinya itu. Jadilah kini orang ber­main Gedhogan atau Gendhongan itu. Sebatang logam yang dipukul dengan logam pula, serupa benar dengan pisau yang kasar dan logam kecil penumbuk sirih, menghasilkan denting yang menambah har­monisasi dentam Gedhogan. Naluri Aestetika melembagakan per­mainan ini kearah seni hiburan segar.
Dan kini ketika beras tidak lagi dihasilkan dari padi lewat proses tra­disi Gedhogan, maka permainan Gedhogan atau Gendhonganpun surut dari kegiatan di desa. Akan tetapi tidak selalu demikian. Semu­la bunyi Gedhogan lengkap dengan intermesso bermainnya, menan­dai adanya suatu perhelatan di sebuah keluarga. Sanak saudara, te­tangga yang mendengar hendaknya segera siap untuk membantu me­nyiapkan segala kepentingan perhelatan, entah itu perkawinan entah pula khitanan.
Yang mau menyumbang materi, mendengar bunyi ge­dhogan ditabuh orang itupun berarti sudah ditunggu empunya kerja. Jadi cepat-cepatlah datang. Ini disebut “buwuh”. Dan kini ketika be­ras sudah dihasilkan oleh teknologi modern mesin penumbuk padi, maka ciri ini agak sulit dihilangkan. Tak kurang akal, wanita-wanita yang biasa bekerja untuk itu, tetap dapat dipanggil dengan tugas po­kok hanya bermain Gedhogan atau Gendhongan. Demikianlah rombongan yang dipimpin oleh Mak Tiah dari desa Derek-Sukosari itu kini sering ditanggap hanya untuk memainkan Gedhogan/Gendhongan itu sehari semalam. Dankini sebagai permin­taan yang sudah menjurus kearah bentuk seni hiburan itu perlu di­tampilkan dengan kelengkapan seni hihuran yang dirasa akan lebih menarik. Penyanyi tunggal dikhususkan untuk itu dan kadang kala ditambah dengan seorang pelawak. 
Peserta Permainan
Enam wanita dianggap cukup lengkap untuk penyajian per­mainan itu. Empat orang sebagai pemukul Gedhogan/Gendhongan, satu diantaranya merangkap sebagai “Pengundang”, yaitu pembangkit suasana kegembiraan lewat monolog-monolognya. Seorang lagi sebagai penyanyi, dan seorang lagi pemukul kluncing. Sekalipun pa­da umumnya permainan ini dilakukan oleh wanita-wanita tua, akan tetapi kekuatan fisiknya haruslah masih kuat juga mengingat berjam- jam mereka harus main, Agak sulit memang menggantikan peranan wanita-wanita tua itu, karena kemampuannya dalam menyanyi, membuat perlaguan yang tak pernah ada notasinya, serta bertindak sebagai “pengundang”, merupakan keahlian yang diperolehnya da­lam waktu yang cukup lama melewati banyak pengalaman. Dalam acara-acara yang lengkap sering ditambahkan seorang laki-laki yang bertindak sebagai pelawak, sehingga dengan demikian suasa­na menjadi benar-benar menuju ke arah suatu seni pertunjukkan. 
Peralatan Permainan
Gedhogan/Gendhongan terbuat dari batang kayu nangka. Ukuran panjangnya bermacam-macam. Satu buah terbesar dan ter­panjang rupanya berfungsi pokok sebagai gong. Panjangnya hampir dua meter, dengan garis tengah hampir 30 cm. Empat yang lain nam­pak lebih kecil. Ada yang sepanjang 1/2 meter, 1 meter, atau lebih pendek lagi. Garis tengahnya rata-rata 25-30 cm. Empat Gedhogan- Gendhongan yang terakhir ini berfungsi sebagai Kendhang, Kempul dan Othek. Jadi dari kelima alat permainan itu masing-masing meng­hasilkan bunyi berbeda satu sama lainnya. Adapun sebagai alat pe­mukulnya dipergunakan Alu yaitu batang kayu sejenis dengan uku­ran panjang sekitar dua meter dan bergaris tengah sekitar 7 cm. Beberapa buah alat pemukul itu ada juga yang berukuran lebih pen­dek dan lebih kecil, karena diperlukan bunyi tersendiri pula. Karena variasi pukulan baik Gedhogan/Gendhongan maupun alunya itu ter­jadilah suatu ensamble musik yang enak.
Peralatan itu masih ditambah lagi dengan sebatang logam sepanjang kurang lebih 20 cm dengan alat pemukul batang logam kecil sepan­jang sepuluh cm. Alat itu disebut Kluncing. Diletakkan pada suatu jagrag dari kayu. Gedhogan itu diletakkan begitu saja di atas tanah, berjajar berde­sakan. Sedang para pemainnya ada yang melakukan permainan de­ngan berdiri ada pula yang jongkok berjengket atau duduk di se­belah kursi pendek (dingklik). 
Jalannya Permainan.
Tiba di sebuah rumah yang sedang mempersiapkan perhelatan maka alat-alat itupun segera diatur tempatnya. Para pemain meng­ambil tempat dan alat pemukul. Biasanya pimpinan yang mengambil prakarsa untuk memainkan suatu lagu, tak perlu ia mengatakan lagu apa yang akan dimainkan itu. Cukuplah ia sebagai pantus memulai dengan suatu pola ritme pukulan tertentu. Segera yang lain-lain mengisi pola itu dan membuat suatu kerja sama permainan ritme ter­tentu. Penyanyipun segera menyuarakan lagu-lagunya. Banyak dian- taranya lagu-lagu tradisi yang sangat mereka gemari seperti : Erang- erang, Waru Doyong, Podo Nonton, Kosir-kosir, Sekarjenang, dan se- bagainya. Ternyata lagu-lagu ini juga dikenal lewat permainan atau­pun seni pertunjukkan lain seperti di dalam Sebiang, Gandrung dan Angklung.
Apabila suatu lagu sudah cukup lama dimainkan, maka “pantus” akan memberikan tanda-tanda tertentu untuk menggantikannya. Beberapa saat kemudian,, “pantus” membuat suatu pola ritme pu­kulan yang lain lagi dan rekan-rekannyapun berbuat sama, mengi­sinya dan meresponsnya sehingga terdengar suatu lagu yang lain lagi. Demikian terus menerus berjam-jam hal itu dilakukan. Semen­tara itu “Pengundang” tidak henti-hentinya melakukan monolog, diantaranya memperbincangkan kemerduan suara sinden, mengar­tikan syair-syair sang pesinden, atau juga kalimat-kalimat sindiran dan sanjungan bagi para pendengarnya.
Pengundang yang baik akan mampu membangkitkan simpati dan riuh tawa pendengarnya, kegembiraanpun dirasakan di sekitar. Sehingga dengan cara demikian akan banyaklah tamu-tamu yang datang di perhelatan baik mereka yang akan membantu persiapan perhelatan maupun yang datang untuk ‘buwuh’ (menyumbang materi). Orang menyebutnya peristiwa mengunjungi perhelatan itu dengan istilah “Kondhangan”. Sehingga rombongan Gedhogan/ Gendhongan yang di panggil untuk peristiwa itu sering dikatakan “ditanggap kango Kondhangan”, artinya diminta bermain untuk me­meriahkan perhelatan.
Peranannya Masa Kini
Rupanya dengan hadirnya tape rekorder di desa-desa yang mampu memberikan ‘tanda’ akan adanya suatu perhelatan, merupa­ kan salah satu sebab mengapa permainan ini sudah agak jarang di­lakukan orang. Lagi pula orang sudah tidak memerlukan lagi me­nyiapkan beras dengan menumbuk padi dalam Gedhogan. Beras giling masih lebih mudah diperoleh dan lebih murah di ong­kosnya dari pada harus mengupah wanita-wanita untuk menumbuk padi sehari-hari. Generasi kini juga kurang menghargai profesi pe­main Gedhogan , karena menganggap bahwa pekerjaan itu berasal dari buruh wanita yang kasar.
Dengan demikian dapat dikhawatir­kan bahwa permainan ini akan semakin langka didapatkan. Memang ada usaha-usaha masyarakat untuk meletakkan permainan itu sebagai suatu bentuk seni musik rakyat. Bersama pemerintah daerah setempat, sering juga diadakan semacam festival permainan Gedhogan/Gendhongan untuk memancing kegairahan masyarakat agar tetap dapat menghidupkan permainan itu sebagai suatu ben­tuk seni pertunjukan musik. Usaha itu tidaklah terlalu sia-sia kare­na ternyata bahwa di desa-desa lain orang juga sudah mulai beru­saha untuk tetap memiliki kelompok-kelompok pemain Gedhogan atau Gendhongan. Dan dengan pemain-pemain di kalangan anak-anak muda, permainan itu sudah sering muncul sebagai sebuah seni per­tunjukan.

~~TaRiaN KiPaS CiNa~~


 Tarian Kipas Cina



Jenis tarian ini menunjukkan bahawa kipas cina mempunyai erti yang sebati dalam masyarakat cina di mana dewa-dewi pada masa lalu sentiasa menjadikan kipas sebagai alat keperluan. Tambahan lagi, angin merupakan satu tradisi masyarakat cina yang mana masyarakat cina mempercayai "Fung Shui" iaitu suatu kepercayaan masyarakat cina umumnya tentang suatu pentanda yang baik dan buruk terhadap sesuatu kehidupan di tempat mereka. Oleh itu, jenis tarian ini dimainkan supaya tarian ini boleh membawa kebaikan atau "Fung Shui" yang baik kepada seluruh anggota masyarakat.

ASAL-USUL

Tarian kipas tarian berasal dari Korea, pada mula-mulanya merupakan tradisi Korea Shamanisme dan kemudiannya berkembang menjadi satu bentuk tarian, telah mempunyai 3000 tahun sejarah. Hari ini, tarian kipas telah menjadi satu latihan yang disayangi oleh masyarakat pertengahan umur. Di Chengdu, setiap taman dan plaza komuniti, walaupun musim panas atau musim sejuk, setiap hari banyak orang tua yang memegang kipas dan menari bersama.


KESENIAN INDONESIA YANG TERKENAL DI DUNIA


Tari Saman dari Aceh atau yang dikenal dengan “seribu tangan” mendapatkan sambutan hangat dari penonton dengan tepukan tangan dan decakan kagum saat tampil di panggung utama Festival Kebudayaan Dunia yang diselenggarakan di Dublin akhir pekan ini.
Festival yang menampilkan berbagai kesenian dan budaya dari berbagai suku bangsa yang berada di Irlandia, ujar jurubicara KBRI London Novan Ivanhoe Saleh kepada koresponden Antara London, Rabu (2/9).
Dikatakan persiapan penampilan para penari amatir Indonesia dilakukan jauh jauh hari dan pelatih tari Saman Meutia Verayanti yang berasal dari Aceh dan menetap di London khusus datang ke Dublin.
Meutia, siswa Indonesia di London khusus didatangkan KBRI London dalam rangka mendukung kegiatan masyarakat Indonesia yang berada di Dublin, ujar Novan Ivanhoe Saleh.
Menurut Nova, KBRI London yang wilayah kerjanya juga mencakup Irlandia mendukung kegiatan yang dikenal dengan Dublin`s Laya Festival, DLR Festival Budaya Dunia, guna mempromosikan dan memperkenalkan Indonesia kepada warga Irlandia.
Dikatakannya sebanyak 10 penari menyemarakan pesta rakyat di Republik Irlandia itu pada acara World Culture Festival yang menurut panitia tarian dari Indonesia termasuk tari yang rumit.
Disebutkan Tari Saman merupakan tarian mengisahkan epik kebaikan melawan kejahatan. “Saman” yang paling populer di Aceh dan menjadi terkenal di luar negeri yang disebut dengan “Seribu tangan”.
Tahun lalu, salah satu tarian yang dipertunjukkan warga Indonesia pada festival ini adalah tari Kecak asal Bali. Acara ini, juga dijadikan ajang pertemuan dalam memperingati HUT RI bagi warga Indonesia di Irlandia, ujarnya.
Menurut Abdul Mudjib, salah satu siswa Indonesia yang tampil dalam grup tari Saman tersebut, saat ini sekitar 200-0 an warga Indonesia menetap di Irlandia. Sebagian besar mereka bekerja di sektor perhotelan. (Pusformas)
 Gamelan menjadi kurikulum sekolah di Di New Zealand, Singapura, Amerika Serikat dan Jepang.
1313683008357159083
Gamelan Jawa telah menjadi salah satu kurikulum tetap di New Zealand School of Music (NZSM) dengan kode mata kuliah PERF250 – Special Indonesian Gamelan berdasarkan kesepakatan kerjasama Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Wellington dengan NZSM pada tahun 1975. Kesepakatan ini ditindak-lanjuti dengan pemberian seperangkat gamelan Pelog oleh KBRI Wellington dengan status ‘pinjaman permanen’.
Jumlah mahasiswa ‘gamelan course’ tahun 2011 mencapai 23 orang. Melebihi batas maksimal penerimaan mahasiswa khususnya untuk mata kuliah PERF250 sebanyak 18 orang. Ini menunjukkan besarnya minat mahasiswa NZSM untuk mendalami seni budaya Indonesia khususnya gamelan. Jangka waktu pengajaran sangat singkat yaitu satu semester atau kurang lebih 13 minggu. Dalam kurun waktu tersebut, selain mahasiswa harus mampu memainkan sebanyak 3 gending gamelan dengan teknik menabuh yang baik, mereka juga harus mendalami teori tentang sejarah dan perkembangan gamelan.
Kepiawaian para mahasiswa tersebut ditampilkan dalam acara Ujian Akhir mata kuliah gamelan Jawa bertajuk “Heavenly Gongs : Music from Java” pada Minggu, 12 Juni 2011 lalu yang diselenggarakan di Adams Concert Room (ACR) NZSM. Acara tersebut mampu membuat kagum sekitar 200 penonton dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, pengajar, masyarakat New Zealand dan Indonesia.
Festival Gamelan Dunia pertama diadakan tahun 1986 di Kanada. Setidaknya terdapat ratusan lebih kelompok ensambel dan studi gamelan di Amerika Serikat, belum lagi di negara lain. Menurut Rahayu Supanggah, penggagas Festival Gamelan Dunia tersebut, Singapura telah menjadikan gamelan sebagai mata pelajaran wajib di berbagai sekolah dasar pada hampir sebagian wilayahnya.
Di Amerika, gamelan Jawa sudah terkenal di berbagai universitas unggulan, seperti Universitas California di Berkeley (gamelan Kyai Udan Mas), San Jose University (gamelan Sekar Kembar), Lewis and Clark College (Kyai Guntur Sari), Michigan, Wiscounsin, Northern Illinois, Oberlin, Wesleyan, dan ratusan universitas terkemuka lainnya.
Di Jepang, gamelan sudah menjadi media ajar di berbagai universitas, seperti Tokyo University of Fine Art and Music dengan grup gamelannya yang bernama Kyai Lambang Sari, di Kuntachi College of Music (Gamelan Sekar Jepun), Dharma Budaya Osaka University, Hyogo University, Tokyo Osaka-Tohogakuen (semuanya college of music).